Tampilkan postingan dengan label motivasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label motivasi. Tampilkan semua postingan

Senin, 21 Juni 2010

You Are Special, A Story About Punchinello







It’s a story about Punchinello, a wooden person called a Wemmick. The Wemmicks spend their days putting stickers on each other- gold stars for “good Wemmicks” and dots for not-so good Wemmicks. Punchinello has dots all over him, because he doesn’t have any special skills and is clumsy. Because of his dots, everyone makes fun of him and he begins to feel like an outcast.

Then one day he meets a girl who doesn’t have any stars or dots on her, and he asks her why she is different from all of the other Wemmicks. She explains that she has met Eli, the woodcarver who made the Wemmicks, and she suggests that Punchinello go to visit him.

Punchinello goes to see Eli, and Eli explains that the stars and dots only stick if you let them. And that it doesn’t matter what the people in the town think of him, because Eli, his maker, made him and he thinks Punchinello is special. Punchinello finally understands where his true worth lies, and as he leaves the house, the dots that have caused him so much pain start to fall off.


Video :

http://www.youtube.com/watch?v=CMBpAi30FSE&feature=related

http://www.youtube.com/watch?v=xDeRkX6hhL8&feature=related

http://www.youtube.com/watch?v=9P21fu4NsyI&feature=related

( can't find english version )


Beberapa hari yang lalu waktu aku ikut retret, aku dapet cerita ini. Cerita yang sangat menyentuh dan aku berharap bisa share cerita ini ke teman2 yang lain. Hampir semua dari kita pernah mengalami keadaan seperti ini, di label dan dicap negatif oleh banyak orang yang kemudian membuat kepribadian kita menjadi seperti yang dikatakan oleh orang lain pada kita. Hari ini kita belajar sesuatu, bahwa keberhargaan diri kita tidak dilihat oleh apa kata orang pada kita, tapi apa yang Tuhan katakan pada kita.

Sebuah perumpamaan tentang uang sebesar 100 ribu rupiah yang mulus , fresh, baru, dan bernilai. Ketika uang itu dilipat, diremas-remas, hingga kusut, nilainya tidak berubah bukan? kemudian tidak sengaja terinjak dan terbuang ke got, terbawa angin, kemudian jatuh di kaki seseorang, apakah masih berharga? masih bernilaikah uang itu?

Sama halnya dengan kita. Tuhan menciptakan kita, Tuhan mengenal hati kita luar dan dalam, ketika orang lain tidak bisa menerima kita, Tuhan masih mau lo menerima kita apa adanya, Why? Kita anakNya, kita ciptaanNya yang dibentuk menurut gambar dan rupa Allah, kita sempurna di mataNya.

Now, it's your choice, masih mau mendengar kata2 orla, atau mau seperti punchinello yang datang kepada Tuhan dan menerima kasihNya, dan tidak membiarkan orla menentukan hidup kita. It's your Life, not Them. Dare to stand alone. Tuhan gak mungkin biarkan kita dikucilkan kok, carilah kerajaan Allah, maka semuanya akan ditambahkan bagiMu.


Ketika orang di sekitar kita berbuat hal yang tidak baik, tidak sesuai dengan hati nurani kita, salah di mata Tuhan, maukah kita berbalik dan tidak ikut2an? Walau harus menentang budaya, Tuhan ingin kita berjalan di jalanNya dan bukan jalan yang dibentuk manusia.


Teman, manusia gak ada yang perfect, kita semua punya kelemahan,punya ego, punya benteng dalam diri dan ini adalah sebuah proses kehidupan yang ga pernah berhenti. Jadi, mari kita bersama berjuang mencari kerajaan Surga hingga akhir nanti.

semoga bisa menjadi sesuatu yang membangun yah..



Continue reading...

Kamis, 06 Mei 2010

I Fly Too High


Edile, seorang bocah di dusun Jerami tengah memenuhi karung beras dengan pupuk yang telah diolah oleh ayahnya. Edile begitu bersemangat , berharap dipuji oleh sang ayah karena telah bekerja keras. " Kalau aku isi karung ini hingga penuh, ayah pasti akan memuji aku dan memberi aku hadiah.." pikir Edile sembari tersenyum dan dengan penuh semangat terus mengisi karung hingga penuh.
Karung itu penuh, dan hampir tak bisa diikat lagi. Edile berusaha sekuat tenaga hingga karung dapat tertutup rapat. Saat hendak mengangkat ke truk , Edile yang bertubuh mungil itu tidak mampu menahan beban karung yang 2 kali lipat besar tubuhnya. Edile sempat terjatuh, tetapi karena ingin menyenangkan ayahnya, dia terus mencoba dan akhirnya memutuskan menarik karung sampai ke truk. Goresan demi goresan pada karung memmbuatnya lubang dan robek, menyebabkan segunung pupuk yang tercecer di genangan air tanah. Pupuk larut dan tidak bisa digunakan kembali.
Ayah Edile segera berlari menyelamatkan sebagian pupuk yang masih kering.
Edile hanya bisa menangis. Air matanya menggenang. Matanya tak berani menatap sang ayah.
Ayah Edile menghampiri putra kecilnya itu. " Edile, kenapa kamu isi pupuk itu terlalu penuh? "
Edile dengan terisak menjawab, " mm.. Ayah.. kalau penuh..kan ... ayah bisa dapat uang lebih banyak.. "
"Edile, karung itu punya batas kekuatannya. Janganlah kamu paksa untuk memasukkan lebih banyak dari yang seharusnya. Jika kamu paksa, karung akan rusak seperti tadi.."
"Tapi yah.."
"Edile, jangan mengkhawatirkan hal-hal yang tak perlu kau khawatirkan. Tiap masalah ada jalan keluar dan ada waktu yang tepat. Jangan memaksakan apa yang kau inginkan, tapi bertanyalah apa yang Tuhan inginkan. Tuhan akan berikan apa yang Edile butuhkan pada waktuNya. Edile bersabar yah.."
Edile berhenti menangis, mengusap air matanya, dan kembali tersenyum sambil menatap sorotan mata ayahnya yang hangat.
----------------------------------------------------------------------------------------------------

" Janganlah menuntut terlalu banyak pada diri sendiri, sepintar apapun dirimu, kamu memiliki titik lemah dan batas kekuatan. Jika terlalu banyak tekanan dan tuntutan, kau hanya akan merusak dirimu sendiri, membuatnya berlubang, semakin besar, dan akhirnya roboh."
"Burung gereja yang tidak pernah terbang terlalu tinggi, tiba-tiba ingin terbang layaknya elang."
"Berilah dirimu sedikit sinar kehangatan, siraman air rohani setiap hari, dan pupuk dukungan untuk membiarkanmu tumbuh dan berkembang hingga berakar kuat seperti pohon beringin."
"Tuhan selalu mendatangkan kebaikan bagi manusia. Beri Dia waktu untuk menunjukkanNya hingga selesai. Jangan menginterupsi prosesnya."

Continue reading...

Kamis, 22 April 2010

Pesan Rahasia Sang Secret Admirer


"When you are kind to others, it not only changes you,it changes the world." Harold Kushner

Sebuah amplop surat berwarna biru yang terselip di buku ensiklopedi manusia setebal 5 cm itu mengawali sebuah perubahan paling dramatis di hidupku. Hanya ada sepucuk surat dan beberapa patah kata yang tertulis di sana. Sebuah kata yang memotivasi dan membuatku merasa amat tersanjung. Seberharga itukah diriku? Tanyaku berkali-kali memandang untaian kata indah itu.

" Vita, biru melambangkan laut yang terhampar luas dengan deburan ombak yang kadang tenang dan kadang bergelora. Seperti itulah AKU menggambarkan dirimu "

Amplop berwarna biru yang kupikir hanyalah dari seorang mahasiswa iseng di kampus atau surat dengan salah alamat yang kebetulan bernama sama denganku itu ternyata disusul dengan amplop berikutnya. Sebuah amplop merah muda itu kutemukan jatuh dari dalam tas ku ketika sedang mencoba merogoh ponsel. Kembali terdapat sepucuk surat, dengan untaian kata indah di dalamnya. Siapakah aku hingga si AKU terpesona dengan diriku? Apakah ada orang yang hendak mempermainkan perasaanku? Aku hanyalah mahasiswi kolot, konvensional, sederhana, dan tak ada sedikitpun berkas kecantikan dalam diriku yang kumal dan berkacamata tebal.

" Vita, merah muda melambangkan cinta dan kasih sayang yang terpancar keluar melalui kepedulianmu kepada sesama yang membutuhkan. Betapa kagumnya AKU pada dirimu "

Seolah merasa tersindir, apakah aku mengenal orang ini? Kapankah aku pernah peduli pada sesama? Yang kupedulikan selama ini hanya egoku dan kepentingan diriku pribadi. Aku malu dan takut bergaul dengan sesama. Siapakah sang pujangga AKU ini?

Sebuah amplop berwarna kuning berikutnya tiba-tiba kutemukan di sela-sela buku yang kupinjam dari perpustakaan. Sekali lagi amplop ini memberi diriku perasaan luar biasa. Aku bertanya-tanya dalam hati siapakah pengirim surat ini, dan apa tujuan sebenarnya mengirimkan aku semangat yang berkobar-kobar ini.

" Vita, kuning melambangkan sinar matahari yang menghangatkan hati banyak orang, dan memanaskan api semangat yang berkobar-kobar. Seperti itulah AKU mengagumi pancaran sinarmu "

Kembali, perasaan tak enak muncul dari dalam hatiku. Seolah membuka kenangan lama, kenangan pahit dan menyakitkan yang membuatku memutuskan mengucilkan diri dari pergaulan. Aku semakin mendapat gambaran apa yang ingin disampaikan sang pujangga pada diriku.

Selama seminggu, tidak ada surat yang muncul. Aku bertanya-tanya dan terus berharap kata-kata pujian itu datang menghampiriku yang tengah terpuruk dan kesepian. Akhirnya, seminggu kemudian, surat berwarna abu-abu datang dan membuatku sangat terkejut karena isinya yang tajam dan membuatku malu.

"Vita, abu-abu adalah warna yang tepat untuk menggambarkan situasimu saat ini. AKU kecewa karena kamu tak mampu menetapkan pilihanmu. Putih adalah lambang kemurnian hati. Hitam adalah lambang kesesakan dan amarah. Mana yang akan kau pilih? AKU menunggu "

Teriris rasanya hati ini mendengar kata-kata menusuk yang tepat menggambarkan suasana bimbang dalam hatiku. Siapakah sang pujangga ini, mengapa Engkau begitu mengerti diriku? Lantas mengapa tak kau tolong aku?

Lama merenung, kuputuskan komitmen baru dalam hidupku. Aku mengambil sebuah kertas berwarna putih tebal, kulipat menjadi burung, dan kuterbangkan di lorong kampus yang tengah sepi saat itu. Aku bergumam dalam hati, "Siapapun kamu, pengirim surat rahasia, inilah jawabanku, lihatlah aku! Aku bukan diriku yang dulu lagi, aku sudah lahir kembali untuk menjadi seperti yang Kau ingini."

Sejak saat itu, aku mulai membuka diri dalam pergaulan, menjadi pribadi ramah nan menarik, berusaha menjadi penolong bagi orang lain yang membutuhkan, dan aku... jauh lebih bahagia dari yang pernah aku bayangkan.

Beberapa bulan kemudian, ketika hendak menuju kampus, tiba-tiba berpuluh-puluh balon berwarna putih beterbangan di angkasa. Sebuah senyum kecil mencuat di bibirku. Aku bergumam, " Aku tahu, Engkau melihatku dari atas sana "

Apa yang kita perbuat bagi orang lain, dapat menjadi sumber motivasi bagi orang tersebut dan juga dapat menjadi senjata yang menyakiti orang tersebut? Tentukan pilihanmu.

Ketika kamu menjadi malaikat bagi orang lain, kamu menjadi malaikat bagi dirimu sendiri.

Setiap manusia membutuhkan sosok penyemangat dan pengingat dalam hidupnya untuk mampu mencapai aktualisasi dirinya.


-cerita di atas hanyalah fiktif belaka,bila ada kesamaan nama atau peristiwa maka hanya bersifat kebetulan dan tidak disengaja-

Continue reading...

Senin, 19 April 2010

Memberi dan Menerima


Di sebuah trotoar dekat sebuah bak sampah, duduk seorang pemulung yang tengah beristirahat. Teriknya matahari siang itu membuat kulitnya yang sawo matang tampak semakin gelap, ditambah peluh dan debu yang melekat di wajahnya yang kusam. Pria ini mengangkat topi butut yang dipakainya dan mengibas-ngibaskan ke lehernya untuk memberi sedikit kesegaran. Pria yang mengenakan kaos abu-abu kumal ini kemudian mencari tempat berteduh di bawah pohon, sesekali pria ini menghela napas dan menelan ludah seraya melirik ke arah tukang es lilin yang sedang menjual dagangannya di bawah pohon tersebut. Sadar bahwa dagangannya menjadi perhatian pemulung tadi, tukang es bertanya pada pemulung tadi,"Mau esnya , Pak? Murah kok cuma 500 rupiah ! "
Pemulung itu tersentak kemudian merogoh saku celananya dan mendapati uang koin 500 rupiah. Pria ini memandangi uang koin berwarna emas tersebut, kemudian dikembalikannya ke saku celananya. " Nggak, Pak! Uang saya gak cukup.."
Tukang es heran , lantas bertanya , " Lo, emangnya bapak mau beli berapa, kok ga cukup? "
Pemulung ini menjawab, " Uang 500 ini tidak cukup untuk membeli makanan untuk anak saya di rumah. Lebih baik saya simpan untuk tambahan uang daripada saya belikan minum. Kasihan anak saya nanti.."
Tukang es merasa iba , ia ingat akan anak semata wayangnya yang juga menunggu dirinya di rumah. " Pak, ini saya kasih es lilinnya 2 gratis , buat bapak dan anak bapak di rumah.."
Pemulung tadi terkejut, tapi kemudian dengan senyum berseri-seri ia mengucapkan terima kasih pada tukang es tadi, dan segera berlari menuju gang sempit dekat jalan raya tersebut. Tampaknya tempat tinggal pemulung tadi harus melalui gang kelinci tersebut.
Hari semakin sore, ternyata dagangan tukang es lilin tidak begitu laris hari tersebut. Hari kian mendung, dari pagi hingga sore, es lilin yang terjual hanya 2 biji. Itu artinya, beliau hanya mendapat 1000 rupiah hari ini, sedangkan sisa es lilin yang lain sudah mulai mencair akibat panas terik di siang hari sehingga tidak dapat dijual kembali. " huh.. rugi deh hari ini..1000 rupiah bisa buat beli apa.. Belum lagi Dodot minta dibelikan mainan dan aku janji mau membelikan hari ini.."
Dengan hati yang gundah, tukang es tadi berjalan melewati perkampungan hendak pulang ke rumahnya. Di tengah jalan, beliau melihat gerobak mainan. Tukang es tadi segera menepi dan bertanya pada penjual mainan, " Permisi bu, berapa ya harga mainan mobil-mobilan ini ? "
Ibu itu menjawab, " Oh itu pak, harganya 5 ribu.."
"waduh, bisa kurang gak bu, saya cuma punya 1000 rupiah.." jelas tukang es
Ibu itu kembali menjawab dengan ketus, " Waduh mana bisa kalau cuman seribu pak, bikin aja sendiri kalau begitu! "
Mendapat perlakuan tak enak, tukang es kembali menarik gerobak dan pulang dengan langkah gontai.
Sesampai di rumah, Dodot tengah bermain mobil-mobilan yang terbuat dari kayu, lempeng bekas, roda bekas yang ditarik dengan tali. "Loh, Dodot dari mana kamu dapat mainan ini? Ayo, cepat balikkan ke yang punya.."
"Ini punya Dodot bapak..!! dikasih sama teman baru Dodot yang tinggal di kampung sebelah. Ayahnya pemulung yang biasa mulung di jalan raya. Mainan ini dibuatkan untuk Dodot.. "
"Ya sudah, besok antar bapak ke rumah temanmu yah, bapak mau berterimakasih.."

Keesokan harinya, Dodot dan ayahnya, si tukang es lilin, bersama-sama menuju rumah teman Dodot. Tak disangka tukang es ini bertemu dengan pemulung yang ditolongnya. Menyadari kebaikan hati masing-masing, tukang es segera menyalami erat pemulung tersebut.
Tukang es yang telah menolong pemulung, pemulung kemudian menolong anak kecil yang menangis meminta mainan di depan rumahnya, dan ternyata merupakan anak si tukang es.

Hari ini kita belajar, bahwa dengan memberi sesuatu kepada orang yang membutuhkan, tidak harus berupa barang, tapi juga bisa berupa semangat dan kata, kita menerima sesuatu dari orang lain yang memberikan kebahagiaan dan menjadi semangat baru dalam hidup kita.
Dengan memperhatikan orang lain, kitapun diperhatikan oleh orang lain. Dengan melayani, kitapun dilayani. Saling berbagi kasih dapat memberi inspirasi baru untuk menatap hari depan.
Maukah Anda mengulurkan tangan Anda ?
Continue reading...

Minggu, 11 April 2010

Kesadaran yang Memilukan


Sebut saja Clarice, gadis berusia 21 tahun ini bekerja sebagai peneliti ekologi. Sepanjang 20 tahun hidupnya, ia merasa sangat bosan dengan hidupnya, merasa benci dengan bekas luka bakar yang cukup terlihat di pipinya yang merona, merasa dirinya tak patut dicintai dan mencintai. Clarice, seorang gadis berbakat , pintar, dan manis ini tampaknya tak bisa lagi melihat hal positif dalam dirinya. Ia kehilangan harapan. Ia berteriak pada Tuhan, namun merasa tak mendapat jawaban. Ia mengulurkan tangan pada Tuhan, tapi selalu dijatuhkan dan mendapat luka yang tak kunjung padam, bagai sakitnya luka bakar yang dideritanya.
Sebuah kejadian sederhana nan memilukan menyadarkannya bahwa Tuhan tetap melihat dirinya.
Pagi itu, seperti biasanya Clarice disibukkan oleh pekerjaannya yang menurutnya sangat membosankan. Clarice bersama rekannya beranjak ke pedalaman untuk meneliti kadar air di desa tersebut. Sementara itu, Ibu Clarice yang sakit-sakitan terpeleset dari tangga dan sempat tak sadarkan diri. Beruntung, adik Clarice tengah menjenguknya dan segera membawanya ke rumah sakit terdekat. Tidak adanya sinyal komunikasi di pedalaman, membuat adik Clarice tidak bisa menghubungi kakaknya.
Pukul 9 malam, Clarice pulang mendapati sebuah post id kuning di meja. Clarice tersentak mendengar kabar tersebut. Dalam perjalanan Clarice berdoa, sesuatu yang telah lama tidak dilakukannya lantaran kekecewaan akan peristiwa traumatis hidupnya, ia bergumam, "Tuhan, aku tahu aku tak pantas memohon kepadamu, tetapi aku percaya, ibu akan sembuh."
Sesampai di rumah sakit , pikiran Clarice berkecamuk. Kejadian terakhir yang diingatnya hanya pertengkaran dan adu mulut yang tak pernah berhenti antara dirinya dan keluarganya. Clarice hanya bisa menahan air mata yang menggenang.
"Kakak...!!" Adik Clarice menghampirinya, wajahnya sama kusutnya dengan Clarice, namun tidak terlihat kecemasan berlebih. " Bagaimana kondisinya? " tanya Clarice
"Sudah lebih baik, hanya terjadi gegar otak ringan. Sekarang kondisinya sudah stabil. Tapi, tadi ibu sempat mengigau, memanggil nama bibi Rosie... Bibi Rosie juga tengah berjuang menghadapi penyakit gagal ginjal yang dideritanya, kak.." jawab adiknya
Clarice terdiam sejenak. Ia masuk ke ruangan , mendapati ibunya yang terlihat penuh keriput di usianya yang menginjak angka 60. Selama beberapa saat Clarice terdiam, ada rasa sesal, ada rasa haru, kemudian keluar dari kamar tersebut, menanyakan kapel terdekat pada perawat.
Di kapel inilah, Clarice memulai perjumpaannya dengan Tuhan. " Tuhan,..., entah kenapa, di saat semua masalah datang dalam kehidupanku, aku menyadari kesalahanku. Aku salah, akulah yang tak pernah memegang tanganMu, akulah yang melepaskan diri dariMu, karena salahkulah, aku jatuh dan terluka. Ampuni kesalahanku, dan trimalah aku kembali ya Tuhan. Aku memang tak layak. Sudah terlalu lama aku menyakiti hatiMu. "

Ketika cuaca indah nan cerah, terkadang kita lupa untuk bersyukur, terhanyut pada suasana duniawi. Ketika badai datang dan menerpa, barulah kita sadar bahwa kita lupa untuk bersyukur dan kerap menyalahkan Tuhan.
Clarice hidup dalam kaca mata hitam, dalam kotak kotak dunia yang dibuatnya sendiri. Peristiwa demi peristiwa membawa proses bagi Clarice untuk senantiasa bersyukur dalam suka dan duka.
Kadang Tuhan ijinkan kita menanggung salib kita, karena tahu bahwa kita bisa berjuang dan mengalami pembaharuan dalam derita.
Ketika kita tidak berfokus pada permasalahan yang terjadi pada diri kita sendiri, membuka hati melihat permasalahan orang lain, barulah kita belajar berempati, dan barulah kita sadar kita tidak sendirian menghadapi masalah. Barulah kita sadar, kita bisa berbuat lebih banyak.
Ketika kita menghibur orang lain, kita sebenarnya menimbun penghiburan bagi diri sendiri.
Saat seseorang terlalu mengkritik dan memperhatikan kita secara berlebihan, sadarlah bahwa mereka terlalu menyayangi kita, dan bentuk sayang tidak selalu sehalus sutera, kadang berkerikil dan sedikit berduri, seperti kaktus yang melindungi dirinya sendiri.
Continue reading...

Senin, 05 April 2010

Everlasting Love


It was a busy morning, about 8:30, when an elderly gentleman in his 80s arrived to have stitches removed from his thumb. He said he was in a hurry as he had an appointment at 9:00am.

I took his vital signs and had him take a seat, knowing it would be over an hour before someone would be able to see him. I saw him looking at his watch and decided since I was not busy with another patient I would evaluate his wound.


On exam, it was well healed, so I talked to one of the doctors and got the needed supplies to remove his sutures and redress his wound.


While taking care of his wound, I asked him if he had another doctor's appointment this morning, as he was in such a hurry. The gentleman told me no, that he needed to go to the nursing home to eat breakfast with his wife.


I inquired as to her health. He told me that she had been there for a while and that she was a victim of Alzheimer's disease. As we talked, I asked if she would be upset if he was a bit late. He replied that she no longer knew who he was, that she had not recognized him in five years now.

I was surprised, and asked him, "And you still go every morning, even though she doesn't know who you are?"


He smiled as he patted my hand and said, "She doesn't know me, but I still know who she is."

I had to hold back tears as he left. I had goose bumps on my arm and thought, "That is the kind of love I want in my life."


True love is neither physical, nor romantic. True love is an acceptance of all that is, has been, will be, and will not be.

shared by Mr.Andreas Budiman

Continue reading...

The mayonnaise jar and 2 cups of coffee




When things in your life seem almost too much to handle,

when 24 Hours in a day is not enough,

remember the mayonnaise jar and 2 cups of coffee.


A professor stood before his philosophy class and had some items in front of him.

When the class began, wordlessly, he picked up a very large and empty mayonnaise jar and proceeded to fill it with golf balls.

He then asked the students if the jar was full.

They agreed that it was.

The professor then picked up a box of pebbles and poured them into the jar.

He shook the jar lightly.

The pebbles rolled into the open areas between the golf balls.

He then asked the students again if the jar was full.

They agreed it was.

The professor next picked up a box of sand and poured it into the jar.

Of course, the sand filled up everything else.

He asked once more if the jar was full.

The students responded with an unanimous "yes."

The professor then produced two cups of coffee from under the table

And poured the entire contents into the jar, effectively filling the empty space between the sand.

The students laughed.

"Now," said the professor, as the laughter subsided,

"I want you to recognize that this jar represents your life.

The golf balls are the important things -

God, family, children, health, friends, and Favorite passions things that if everything else was lost and only they remained,

your life would still be full.

The pebbles are the other things that matter like your job, house, and car.

The sand is everything else -- the small stuff.

"If you put the sand into the jar first," he continued,

"there is no room for the pebbles or the golf balls.

The same goes for life.

If you spend all your time and energy on the small stuff,

you will never have room for the things that are important to you.

So...

Pay attention to the things that are critical to your happiness.

Play With your children.

Take time to get medical checkups.

Take your partner out to dinner.

Play another 18.

There will always be time to clean the house and fix the disposal.

"Take care of the golf balls first -- the things that really matter.

Set your priorities.

The rest is just sand."

One of the students raised her hand and inquired what the coffee represented.

The professor smiled.

"I'm glad you asked".

It just goes to show you that no matter how full your life may seem, there's always room for a couple of cups of coffee with a friend."


sumber: http://www.catsprn.com/mayonnaise_jar.htm

Continue reading...

Minggu, 04 April 2010

Tawa adalah Obat Terbaik


based on the true story, "The Secret" by Rhonda Byrne

CATHY GOODMAN, KISAH PRIBADI

Saya didiagnosis kanker payudara. Dalam hati, dengan iman yang kuat, saya sungguh percaya bahwa saya sudah sembuh. Setiap hari saya berkata, "Terima Kasih atas penyembuhan saya." Saya mengucapkannya berulang-ulang. "Terima Kasih untuk penyembuhan saya." Dalam hati saya percaya bahwa saya sudah sembuh. Saya memandang diri seakan-akan kanker tidak pernah ada dalam tubuh saya.
Salah sa
tu hal yang saya lakukan untuk menyembuhkan diri adalah menonton setiap film lucu. Dan kami akan tertawa, tertawa, dan tertawa. Kami tidak bisa menambah stres ke dalam hidup saya karena kami tahu stres adalah salah satu hal terburuk yang dapat Anda lakukan ketika Anda berusaha menyembuhkan diri.
Dari saat saya didiagnosis sampai saat saya sembuh, waktunya adalah sekitar 3 bulan. Dan itu sama sekali tanpa radiasi atau kemoterapi.



Dr.Ben Johnson : "Di luar sana ada ribuan diagnosis dan penyakit. Kedua hal tersebut adalah mata rantai yang lemah. Keduanya adalah akibat dari satu hal : stres. Jika Anda memberi tekanan yang cukup pada rantai dan tekanan yang cukup pada sistem, salah satu mata rantai akan putus."
Dr.John Demartini : "Faal tubuh kita menciptakan penyakit untuk memberitahu kita bahwa ada ketidakseimbangan sudut pandang, atau bahwa kita tidak cukup MENCINTAI dan BERSYUKUR. Jadi tanda dan gejala tubuh bukanlah sesuatu yang buruk."

Sudahkah Kita bersyukur dengan keadaan Kita saat ini, apapun yang terjadi ?
Continue reading...
 

Setangkup Roti Copyright © 2009 Designed by Ipietoon Blogger Template In collaboration with fifa
Cake Illustration Copyrighted to Clarice